Resume Sembilan Elemen Jurnalisme



Untuk Apa Jurnalisme?

Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa bebas dan mengatur hidup mereka sendiri. Dengan adanya jurnalisme, warga dapat memiliki pengetahuan yang sama. Jurnalisme hadir untuk memenuhi hak warga, yaitu memperoleh informasi. Jurnalisme erat kaitannya dengan demokrasi. Demokrasi merupakan sistem yang menganut kebebasan berpendapat, sedangkan jurnalisme pada hakikatnya adalah bebas dalam menyampaikan suatu peristiwa.

Hasil karya dari sebuah jurnalisme adalah berita. Manusia akan selalu mencari berita karna manusia memiliki naluri kesadaran, yaitu manusia membutuhkan berita. Manusia memiliki rasa ingin tahu terhadap suatu peristiwa. Seperti contoh, perkumpulan ibu-ibu di suatu komplek perumahan saling membicarakan tetangganya yang sering pulang larut malam. Secara tidak langsung, mereka saling bertukar informasi yang merupakan sebuah berita bagi mereka. Dengan adanya berita dari hasil kegiatan jurnalisme ini, manusia dapat mengatur hidupnya dan bersosialisasi dengan bertukar berita.

Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi pun semakin berkembang dan muncul internet. Hampir 
setiap orang menggunakan internet untuk melakukan aktivitasnya, terlebih mencari berita. Sejak ada internet, semua informasi bebas diterima oleh publik. Ini merupakan tugas baru bagi seorang wartawan. Wartawan era baru harus mampu menuntun publik untuk memahami suatu peristiwa dengan cara memverifikasi apa informasi yang diterima publik dapat dipercaya atau tidak. Di sini, wartawan tidak hanya menyajikan berita saja. Secara gtidak langsung, berarti menambahkan interpretasi atau analisis pada sebuah berita.

Berikut ini merupakan sembilan elemen jurnalisme:

  • Kebenaran: Prinsip Pertama yang Membingungkan
Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Dengan kebenaran, suatu berita dapat dipercaya dan dijadikan pedoman oleh publik untuk menjalani kehidupan. Dengan berita, seseorang dapat mengetahui apa yang terjadi di luar diri mereka. Seperti contoh, ketika ada berita tentang terbakarnya sepuluh rumah akibat arus pendek listrik saat musim mudik. Orang yang menonton akan menjadi waspada dengan mematikan seluruh aliran listrik saat keluar rumah dalam waktu yang lama. Peristiwa-peristiwa yang diberitakan tersebut akan menjadi pedoman bahkan pelajaran bagi yang membacanya.

Suatu kebenaran tak lepas dari sebuah fakta. Pers dalam membuat berita harus sesuai dengan fakta yang ada. Wartawan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap kebenaran dalam sebuah berita. Wartawan yang tidak menyampaikan kebenaran dalam berita akan membuat publik merasa ditipu oleh media. Oleh karena itu, metode yang digunakan harus objektif. Namun, kebenaran sulit untuk dilakukan karena manusia memiliki sisi subjektif, terlebih setiap wartawan memiliki latar belakang yang berbeda-beda.

Di era yang baru ini, arus informasi sangat besar dan cepat sehingga hampir semua informasi tidak tersaring. Banyak berita bohong atau Hoax yang diterima oleh masyarakat. Dalam keadaan seperti ini, sebuah kebenaran sangat dibutuhkan. Berita yang benar dapat menjadi alat untuk mengkonfirmasi kabar yang bersangkutan. Masyarakat pun akan menyortir mana berita yang benar dan berita yang salah.

  • Untuk Siapa Wartawan Bekerja?
Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada publik. Loyalitas kepada publik dapat disebut juga independensi jurnalistik.Ketika wartawan mengumpulkan dan menyajikan suatu berita, berita tersebut harus didasarkan pada kepentingan publik meskipun harus bertentangan dengan atasan mereka. Dapat dikatakan, hal ini merupakan independensi wartawan, yaitu wartawan harus independen dalam menyajikan berita tanpa campur tangan siapa pun. Berita yang disajikan harus tidak mengandung unsur keterkaitan dan keberpihakkan. Jika wartawan menyampaikan berita yang tidak sesuai fakta, publik dapat tidak percaya lagi dengan wartawan itu dan menganggapnya tidak kredibel.

Namun, di satu sisi, wartawan juga dituntut untuk mengikuti perintah atasan yang bertentangan dengan independensi wartawan. Wartawan diatur oleh pemilik dapa para pemegang saham karena mereka yang mendanai seluruh kegiatan jurnalistik. Tanpa adanya mereka, mungkin kegiatan jurnalistik ini tidak dapat berjalan. Oleh karena itu, wartwan dengan terpaksa adanya keberpihakkan. Seakan-akan, loyalitas wartawan yang pertama adalah pemilik dan pemegang saham.

Media massa saat ini sudah semakin menunjukkan bahwa dalam menyajikan suatu berita, betita tersebut mengandung unsur keberpihakkan. Beberapa stasiun televisi, ketika menyajikan suatu berita, isi berita tersebut sudah mulai diatur oleh pemiliknya. Publik yang menyaksikannya pun merasa ditipu oleh media tersebut dan menganggap berita yang disajikan tidak faktual. Akhirnya, publik pun men-judge bahwa berita yang disajikan media tersebut sudah tidak kredibel lagi.

  • Jurnalisme Verifikasi
Intisari Jurnalisme adalah sebuah disiplin verifikasi. Wartawan harus mengecek fakta yang ditemukan sebelum disiarkan ke masyarakat. Disipilin verifikasi memiliki keterkaitan dengan objektivitas suatu berita. Verifikasi terhadap berita untuk menghindari berisi berita yang tidak sesuai fakta. Oleh karena itu, wartawan harus mengecek apakah narasumber kredibel atau tidak. Musuh dari berita adalah hiburan atau infotainment. Berita harus diverifikasi, sedangkan infotainment biasanya mengarang fakta dan manipulatif.

 Seorang wartawan tidak boleh menambahi hal-hal yang tidak terjadi dalam suatu berita. Selain itu, seorang wartawan tidak boleh menyebarkan berita yang bohong meskipun untuk menarik simpati publik agar membacanya. Seorang wartawan berlakukan setransparan mungkin tentang metode dan motivasinya. Wartawan juga tidak boleh menggunakan sumber yang menyesatkan dengan dalil untuk transparansi. Wartawan tidak boleh menyesatkan sumber-sumber mereka untuk memperoleh informasi. Bian bererita yang disajikan pun harus orisinil, yaitu merupakan hasil pencarian berita sendiri.

Media massa saat ini, masih menggunakan disiplin verifikasi. Namun, sudah kurangnya transparansi karena campur tangan dari pemilik medianya.

  • Independensi dan Faksi
Wartawan harus tetap independen agar mampu menghasilkan karya jurnalisme yang objektif. Independensi wartawan yang membedakan dengan profesi lainnya meskipun setiap wartawan memiliki latar belakang yang berbeda. Wartawan tidak boleh terpengaruh oleh apapun sekalipun itu keluarganya. Meskipun informasi yang diberitakan menyangkut kerabatnya, seorang wartawan harus mampu menyajikan berita yang objektif sesuai dengan fakta yang ada. Wartawan bertanggung jawab terhadap publik, jadi berita yang disajikan harus berisi kebenaran  agar publik dapat menggunakan berita tersebut untuk menambah ilmu pengetahuannya dan juga menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.

Di masa kini, sebagian media massa menghiraukan independensi wartawan. Jika ada berita yang menyangkut keburukkan atasannya tidak akan disiarkan atau akan dimanipulasi menjadi berita tentang kebaikkannya. Padahal seharusnya, seorang wartawan tetap harus menyiarkannya kepada publik meskipun berita itu merupakan keburukkan dari atasannya. Namun semua kembali lagi, pemilik dan para pemegang saham memiliki kekuasaan yang penuh untuk mengatur media massanya. Wartawan selaku bawahannya mau tidak mau mengikuti apa yang diperintahkan atasannya.

  • Memantau Kekuasaan dan Menyambung Lidah yang Tertindas
Wartawan harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan. Jurnalisme membuat masyarakat tentang hal-hal yang terjadi di pemerintahan yang semula hanya diketahui hanya orang-orang tertentu seperti mereka yang menjalankan bisnis dengan pemerintah atau mereka yang terlibat langsung dalam administrasi pemerintahan. Di sini, wartawan menjadi pemantau pemerintahan. Meskipun wartawan sebagai pemantau pemerintahan, bukan berarti wartawan akan menghancurkan kedudukan seseorang. Dalam memantau pemerintahan biasanya akan menyamar untuk melakukan laporan investigasi.

Di masa kini, media massa sudah bebas membicarakan tentang pemerintahan, bahkan mengkritik internal pemerintahan itu sendiri. Dengan kondisi media massa saat ini, apa yang terjadi di pemerintahan akan secara eksplisit disiarkan oleh media massa. Bahkan beberapa media massa, tak segan untuk mengkritik pemerintahan.

  • Jurnalisme sebagai Forum Publik
Jurnalisme harus menghadirkan sebuah forum untuk kritik dan komentar publik. Forum publik ini berguna untuk mengetahui opini publik di masyarakat. Dengan forum publik ini juga, dapat mendorong warga untuk membuat penilaian dan mengambil sikap terhadap suatu berita. Wartawan akan dapat memahami apa yang diharapkan oleh publik. Forum ini juga dapat menjadi wadah untuk bertukar pikiran antar pembaca terhadap suatu berita.

Media massa saat ini sudah menggunakan forum publik seperti ini. Di media cetak, sering ada surat pembaca yang berisi tentang keluhan-keluhan atas kejadian –menyangkut umum—yang dialami oleh orang tersebut. Di televisi, acara berita juga terkadang mempersilahkan penonton untuk memberikan tanggapan terhadap berita yang disajikan seperti tanggapan terhadap kasus korupsi E-KTP melalui nomor hot-line. Situs berita intenet saat ini juga sudah menyediakan kolom komentar bagi setiap berita yang disajikan. Di kolom komentar itu akan terjadi adu argumen antar pembaca.

  • Menarik dan Relevan
Wartawan harus membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan. Berita yang menarik adalah berita yang menyangkut dengan kehidupan di masyarakat. Tugas wartawan adalah mengemas berita semenarik mungkin untuk menarik minat pembacanya. Wartawan harus membuat berita yang relevan, tetapi tidak membosankan dan memikat. Lebih baik lagi, jika suatu berita dapat menyentuh emosi seseorang. Suatu hal yang mampu memengaruhi emosi seseorang akan tambah menarik.

Di dalam media massa saat ini, wartawan sudah mampu mengemas suatu berita sesuai dengan yang lagi hits di kalangan masyarakat. Jika di televisi, sudah ada suatu program acara yang menyiarkan tentang fakta-fakta yang terjadi di dunia, tetapi disajikan dengan sangat menarik seperti ditambahkan dengan lagu-lagu ataupun dalam bentuk poin-poin seperti “7 fakta menarik dari 7 keajaiban dunia”.

  •  Jadikan Berita Komprehensif dan Proporsional
Wartawan harus menjaga berita dalam proporsi dan menjadikannya komprehensif. Jurnalisme merupakan peta untuk publik untuk mengarahkan persoalan masyarakat.  Judul berita dengan isinya harus sesuai. Wartawan juga harus terus menggali lebih jauh fakta-fakta dan disusun menjadi suatu berita yang proporsional dan komprehensif. Proporsi dan komprehensivitas adalah kunci akurasi.

  • Wartawan Punya Tanggung Jawab pada Nurani
Wartawan punya kewajiban terhadap nurani. Hal ini menyangkut dengan masalah karakter. Dalam melakukan kegiatan jurnalisme, seorang wartawan harus didasarkan pada nuraninya. Wartawan memiliki standar sendiri untuk menyampaikan suatu berita. suasana  kerja yang nyaman juga dapat memengaruhi nurani dari seorang wartawan. Jika wartawan itu ingin menyebarkan berita yang sesuai fakta, sedangkan atasannya meminta untuk dimanipulasi, hal itu menjadi beban untuk wartawan itu sendiri.




Daftar Pustaka:
Kovach, Bill, dan  Tom Rosenstiel. 2006.  Sembilan Elemen Jurnalisme. Jakarta: Pantau

Komentar